Seberapa lama kau bisa bertahan? Ralph Waldo Emerson, si pelari jarak jauh itu bilang “Seseorang menjadi pahlawan bukan karena ia lebih berani dari yang lain, tapi ia berani bertahan sepuluh menit lebih lama”. Bertahan, terus berlari. Aku ingat sewaktu kecil senang sekali meraungkan luka dan bisa kubawa berlari, berlari hingga hilang pedih perih-nya Chairil itu. Sepertinya takkan ada satupun luka yang dapat mencegah aku melangkah. Tapi kini aku sering memerlukan lebih banyak golden minnow Feeding Frenzy atau semacam sekaleng bayam dari ketiak Popeye agar hatiku terus melambung, daya tahanku menabung. Mungkin dengan jalan menjaring beberapa kata yang dipadatkan menjadi semboyan agar aku setia dijalur dan kaki terus berlari. Dan akhirnya aku tertawa sendiri jika kutemukan kalimat-kalimat yang lebih sering mengikuti standar genit penyiar radio diacara curhat. Untuk itu, naluri pengutipanku mencari-cari jalan dalam mengingat kalimat yang pernah mencengangkanku dari yang sempat lewat dalam ingat. Tapi demikian, mengutip (menggunakan tanda kutip) sering memunculkan masalahnya sendiri, mungkin tentang kepersisan kata-kata dan maksud, juga penerapannya itu. Selain itu, tanda kutip adalah satu-satunya tanda baca yang menggantung, hingga sebagian orang khawatir pada soal ketergantungan. Baca entri selengkapnya »
Status quo
3 04 2008Untuk kesekian kalinya aku tak berhasil mendisiplinkan waktu tidur, pukul 06.35 pagi aku keluar sebentar, menghirup pagi yang selalu denganku bertukar dekap dalam lelap. Jika, aku masih belum tidur pada jam-jam seperti ini, aku hanya keluar kamar, duduk di teras. Mungkin untuk pagi yang asing atau untuk punggung gadis tetangga dengan rambut basah pergi ke sekolah. Saat itu aku akan berdoa semoga ia sampai di tujuan dengan keriangan yang sama. Lalu. Tiba-tiba aku merasa tua, maksudku terasa beberapa tahun lewat begitu saja sebelum sempat gelas kopi menyentuh lantai kembali, jikapun menghitung bercak nikotin untuk hari yang dilalui paru-paruku. Lalu. Apa bedanya sebelum aku sebagai tertuduh waktu. Baiklah, mungkin sisi baiknya kulewati pagi adalah doa-doa. Aku terlalu jarang berdoa, bahkan jika mendung membayangi ujung hidung dan perjalananku masih panjang, biasanya aku lebih memilih mengutuki hari dan prakiraan cuaca ketimbang berdoa. Baca entri selengkapnya »
Komentar : 2 Komentar »
Kategori : catatan harian
tahun-pekik-baru
29 01 2008Aku tak perlu bertanya, sejak tanggal berapa orang-orang berlatih pernapasan atau mempersiapkan telinga untuk menerima beban tidak sebiasanya, terlebih jika diantara mereka ada seorang wasit yang biasa memimpin pertandingan sepak bola atau anggota marching band. Ini tentang terompet, seperti yang biasa dilakukan jika tepat tengah malam di penghujung tahun. Orang membunyikan berbagai suara, klakson di jalan, terompet di mulut atau apapun di tangan, jika tidak, bertepuk tangan saja atau teriak. Pukul dua belas, di belakang 2007 dan di depan 2008, tunggu dulu, sebelumnya, dihitung mundur dari sepuluh bersama-sama. Malam itu tidak kulakukan semuanya, hanya aku dan beberapa yang lain melewati jam itu dengan bermain kartu, seharusnya tidak begitu. Atau sesuatu dalam diriku mengatakan seharusnya akupun ikut membantingkan diri pada senyaring pekik.
Kita telah terlanjur sepakat bahwa tahun memiliki dua belas bulan dan hari memiliki dua belas jam, bahkan Cinderella tak sempat bertanya. Dulu, mendiang pamanku memiliki jam yang berdentang ketika jarum panjangnya lurus, dan jumlah dentang ditentukan jarum pendek mengarah angka yang mana. Ya, mungkin kita akan selalu punya persiapan untuk menyambut sejenak purna, pukul sekian pas. Kemudian, sudah tak menjadi soal sejak kapan orang mempersiapkan suara dan telinga, jika boleh aku menebak, tentu sejak setahun yang lalu. Mungkin kesepakatan selanjutnya itu bahwa untuk menyambut sesuatu yang baru, ajeg, sempura sejenak (dan meninggalkan yang lama, yang rapuh, kurang, oleng) mesti diiringi semacam pekik, atau mungkin pekik itu hanya pertanda menepis-lepas apa yang tak pas. Baca entri selengkapnya »
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : catatan harian
Sajak Gagal
29 01 2008Pada bagian ini aku hanya ingin mengatakan bahwa mungkin sudah sewajarnya aku merasa beruntung karena tidak berada dalam suasana kasmaran. Aku tidak harus menulis puisi, itu yang pertama kali harus aku syukuri. Memang sejak dulu aku memang merasa tak pernah berhasil menulis puas sepotong puisi, jika sudah jadi paragraf kecurigaan selalu lebih panjang dalam kepalaku tinimbang puisi itu sendiri. Aku selalu merasa kata-kata enggan berpihak pada keterbatasan ungkapku. Lagipula siapa yang menetapkan kewajiban menulis puisi jika sedang kasmaran? Dan bukankah selalu ada jalan lain untuk mengatasi gagap ungkap dalam sajak, mungkin bisa dengan laku mbeling itu, semacam anggapan santai; jika kita masih bersusah payah memikirkan bikin puisi, jadi apa kita? Bangsa lain sudah berhasil membuat pesawat, kita masih sibuk dalam jibaku menganggap kata seolah hantu. Takut sekaligus kagum. Kenapa kita sering pikun terhadap bahasa, yang seharusnya kita kerasan di dalamnya. Ariel Heryanto pernah bilang kapan dalam jaga kita tidak terlibat dengan bahasa?, bahkan sesekali dalam tidurpun kita mengigau.. atau sedikit lebih fenomenologis; bahwa kita hanya mungkin menyapa ‘ada’ di tanah tumpah bahasa. Beruntung, tak ada yang pernah merasa selesai dengan urusan kata-kata. Jika demikian apa yang bisa dikerjakan dewan bahasa dan bagaimana nasib bisnis penerbitan? Baca entri selengkapnya »
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : catatan harian
Stasiun
29 01 2008Fani Ahmad Fasani
Siang datang lebih cepat dari dugaanku, padahal jarak antara malam dan pagi kurasakan jauh saat ditempuh. Aku telah memutuskan untuk menjemput. Matahari menatap mataku lalu perih, aku membuang muka, dia tahu aku belum tidur sekejappun. Sudah jam sebelas lebih empat puluh delapan. Mungkin kurang dari setengah jam lagi kereta itu datang. Sebaiknya aku segera duduk syahdu di ruang tunggu. Setelah nanti pengeras suara mengumandangkan kedatangan mahluk besi melata itu, aku baru ke tepi rel. Kali ini aku merindukan gemuruhnya dari jauh, seperti pertanda hujan yang lekas. Kemudian setelah decitnya mereda, para penjemput berdiri, kuli-kuli angkut, pedagang asongan dan tentunya penumpang selanjutnya menyiapkan langkah segera. Aku akan menikmati berada di tengah mereka, seperti kembali menyambut harapan menghampiri. Baca entri selengkapnya »
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : cerpen
Menulis Angin
29 01 2008Aku yang masih mencoba menulis angin
di tebing perih, pada setiap karat yang
sempat tercatat. Dendam luka yang
terendam dalam cuka; memugar tatap
dihunus kerlingmu. Maka, asah sepimu
atas tulang tulangku, sakiti sunyi hingga
gumam bulan tertera di nisan malam dan
kemboja, menyingkap kerudung pengantinnya;
menukar wajah menakar entah.
Cileunyi, 04 Desember 2007
Komentar : 1 Komentar »
Kategori : Puisi

Komentar Terakhir