Aku tak perlu bertanya, sejak tanggal berapa orang-orang berlatih pernapasan atau mempersiapkan telinga untuk menerima beban tidak sebiasanya, terlebih jika diantara mereka ada seorang wasit yang biasa memimpin pertandingan sepak bola atau anggota marching band. Ini tentang terompet, seperti yang biasa dilakukan jika tepat tengah malam di penghujung tahun. Orang membunyikan berbagai suara, klakson di jalan, terompet di mulut atau apapun di tangan, jika tidak, bertepuk tangan saja atau teriak. Pukul dua belas, di belakang 2007 dan di depan 2008, tunggu dulu, sebelumnya, dihitung mundur dari sepuluh bersama-sama. Malam itu tidak kulakukan semuanya, hanya aku dan beberapa yang lain melewati jam itu dengan bermain kartu, seharusnya tidak begitu. Atau sesuatu dalam diriku mengatakan seharusnya akupun ikut membantingkan diri pada senyaring pekik.
Kita telah terlanjur sepakat bahwa tahun memiliki dua belas bulan dan hari memiliki dua belas jam, bahkan Cinderella tak sempat bertanya. Dulu, mendiang pamanku memiliki jam yang berdentang ketika jarum panjangnya lurus, dan jumlah dentang ditentukan jarum pendek mengarah angka yang mana. Ya, mungkin kita akan selalu punya persiapan untuk menyambut sejenak purna, pukul sekian pas. Kemudian, sudah tak menjadi soal sejak kapan orang mempersiapkan suara dan telinga, jika boleh aku menebak, tentu sejak setahun yang lalu. Mungkin kesepakatan selanjutnya itu bahwa untuk menyambut sesuatu yang baru, ajeg, sempura sejenak (dan meninggalkan yang lama, yang rapuh, kurang, oleng) mesti diiringi semacam pekik, atau mungkin pekik itu hanya pertanda menepis-lepas apa yang tak pas. Baca entri selengkapnya »

Komentar Terakhir