Menulis Angin

29 01 2008

Aku yang masih mencoba menulis angin

di tebing perih, pada setiap karat yang

sempat tercatat. Dendam luka yang

terendam dalam cuka; memugar tatap

dihunus kerlingmu. Maka, asah sepimu

atas tulang tulangku, sakiti sunyi hingga

gumam bulan tertera di nisan malam dan

kemboja, menyingkap kerudung pengantinnya;

menukar wajah menakar entah. 

 

Cileunyi, 04 Desember 2007


Tindakan

Information

Satu tanggapan

31 01 2008
izzadwje

apakah badai bukan jawaban?
senja juga bukan harapan?
berapa lipatan malam dan siang yang kau butuhkan?

Tinggalkan komentar