Aku yang masih mencoba menulis angin
di tebing perih, pada setiap karat yang
sempat tercatat. Dendam luka yang
terendam dalam cuka; memugar tatap
dihunus kerlingmu. Maka, asah sepimu
atas tulang tulangku, sakiti sunyi hingga
gumam bulan tertera di nisan malam dan
kemboja, menyingkap kerudung pengantinnya;
menukar wajah menakar entah.
Cileunyi, 04 Desember 2007

apakah badai bukan jawaban?
senja juga bukan harapan?
berapa lipatan malam dan siang yang kau butuhkan?