tahun-pekik-baru

29 01 2008

Aku tak perlu bertanya, sejak tanggal berapa orang-orang berlatih pernapasan atau mempersiapkan telinga untuk menerima beban tidak sebiasanya, terlebih jika diantara mereka ada seorang wasit yang biasa memimpin pertandingan sepak bola atau anggota marching band. Ini tentang terompet, seperti yang biasa dilakukan jika tepat tengah malam di penghujung tahun. Orang membunyikan berbagai suara, klakson di jalan, terompet di mulut atau apapun di tangan, jika tidak, bertepuk tangan saja atau teriak. Pukul dua belas, di belakang 2007 dan di depan 2008, tunggu dulu, sebelumnya, dihitung mundur dari sepuluh bersama-sama. Malam itu tidak kulakukan semuanya, hanya aku dan beberapa yang lain melewati jam itu dengan bermain kartu, seharusnya tidak begitu. Atau sesuatu dalam diriku mengatakan seharusnya akupun ikut membantingkan diri pada senyaring pekik.

Kita telah terlanjur sepakat bahwa tahun memiliki dua belas bulan dan hari memiliki dua belas jam, bahkan Cinderella tak sempat bertanya. Dulu, mendiang pamanku memiliki jam yang berdentang ketika jarum panjangnya lurus, dan jumlah dentang ditentukan jarum pendek mengarah angka yang mana. Ya, mungkin kita akan selalu punya persiapan untuk menyambut sejenak purna, pukul sekian pas. Kemudian, sudah tak menjadi soal sejak kapan orang mempersiapkan suara dan telinga, jika boleh aku menebak, tentu sejak setahun yang lalu. Mungkin kesepakatan selanjutnya itu bahwa untuk menyambut sesuatu yang baru, ajeg, sempura sejenak (dan meninggalkan yang lama, yang rapuh, kurang, oleng) mesti diiringi semacam pekik, atau mungkin pekik itu hanya pertanda menepis-lepas apa yang tak pas.

Aku lebih merasa bahwa pekik itu upaya melepas arah kurang itu tinimbang menyambut lengkap, karena konon, suatu ketika dunia yang renta, ketika kelak di penghujung nafasnya, maka Israfil menyiapkan pekik yang sejak semula dari sengkala, pada detik dunia selanjut hancur. Kiamat! Dan Israfil, sejak awal dunia telah bertugas begadang menunggu detik pekik itu. Pekik yang mencuci kesementaraan gamang. Lagipula, jika kubayangkan awal, aku hanya mampu bingung jika sebuah “kun” sebagai kata paling purba itu merupakan sebuah pekik, tuhan tak perlu pekik karena kesempurnaannya menutup kemungkinan untuk ekspresi lepas dari kekurangan, atau kesempurnaan itu justru jauh dari batas-batas ekspresi. Ia senantiasa sempurna. Ah, mungkin aku terlalu membayangkan “kun” itu sebagai sesuatu yang memanusia. Penyakit khas teologi. Hanya manusia yang masih membutuhkan “nah!”, “eureka!”, atau semacamnya, dan sejauh tidak menyangkut bahasa manusia, “kun” berada pada konteksnya sendiri, tak sebanding dengan apapun. Lagipula, di malam tahun baru, hitungan sepuluh detik itu, menghitung detik akhir tahun, hingga dua belas pas, dan setelah itu, detik di tahun selanjutnya, kita tidak peduli lagi pada hitungan kecuali sebentuk pekik. Yang jelas, inilah kesempatan kita mengarahkan pekik menuju riuh, maksudku waktu kita bersama untuk berbareng melepaskan pukul 23. 59 menit 59 detik tanggal 31 Desember 2007 dengan meninggikan suara. Atau mungkin justru sebaliknya, pekik masing-masing itu adalah upaya membentuk riuh yang dibayangkan sedari awal, hingga riuh itu lebih dulu, lalu pekikan kita menunjukan sejauhmana kita menyepakati riuh.

Lagipula aku tak terlibat secara langsung dengan soal timpal pekik-riuh itu. Aku hanya membayangkannya. Di luar hujan, dan kami masih bermain kartu. Saat pukul dua belas kami keluar melihat langit yang penuh kembang api dari pusat pembelanjaan yang jaraknya tak begitu jauh, serta dari beberapa tempat lainnya, kami hanya diam tengadah, itupun sah. TC dan Naufal datang bukan dengan rencana menepis tahun lalu dengan bermain kartu, mereka datang menjemput untuk menghadiri acara. Mereka sudah berjanji hadir di Kampus Unwim. Coffe Reggae Stone main malam ini, pukul setengah satu yang gerimis baru kami berangkat, dan seperti yang dapat diduga sebelumnya, acara musik telah selesai, dan basah tak bisa dibantah. Selanjutnya keceriaan tanpa kepanitiaan yang berlaku; kambing guling (aku tak memakannya) dan hempas serotonin menepuk riuh kesadaran. Singa jengke dan kawan-kawan! (akupun tidak, kecuali khawatir masuk angin dan sikap hormat). Boul meminta maaf berkali-kali; “Sorry pow, kondisinya sudah seperti ini”. Juga memohonkan maaf untuk Sandy yang di gulung arus sedari tadi; “Jangan dianggap serius, dia memang lagi asik”. Ah, kesopanan sepertinya tampil tulus bahkan dalam situasi yang aneh ini. Mungkin pada dasarnya manusia memang mahluk santun hingga Hobbes membayangkannya hanya sebagai serigala, tidak piranha. Atau mungkin karena Hobbes pernah melihat orang-orang yang melolong saat menyambut tahun baru.

Meskipun jauh terlambat, aku, Naufal dan TC menghitung mundur dari sepuluh, mungkin orang menganggapnya aneh, tapi yang penting hari ini tak ada dari salah satu dari kita merasa remeh. Itu belum seberapa, bayangkan jika aku memutuskan untuk menghitung mundur dari satu milyar, dan menghabiskan tiga puluh satu ribu tujuh ratus sembilan tahun hanya untuk berhitung (jika satu detik dihitung satu hitungan). Sudah lama hitungan selesai ketika Boul mulai mengheningkan cipta cukup lama. Yang lain mengajaknya muntah tapi ia masih tak sudi. Sementara Sandy sudah berhenti membuat risau guru kursusnya, untuk kembali ke pelukan bahasa ibu, aku bersukur. Sepertinya ia kembali ke dalam barisan untuk berduyun-duyun menyongsong entah apa, mungkin Botak tahu jawabannya, tapi kuharap tak ada seorangpun bertanya hal itu padanya, karena ia masih belum menentukan diri sebagai pemalu atau pemaku. Sementara TC masih merasa seandainya Rio dan Kerewed tadi jadi berangkat, mungkin lebih meriah atau mungkin tidak juga. Lalu kami membayangkan ia menyesal tidak datang, dan ternyata itu lebih menyenangkan. Atau memang karena harapan tak dapat diasuransikan, hingga kita perlu berkali-kali menegaskan “inilah kami disini yang bersenang-senang, tak menyisakan secuil sesal!”.

Udara makin dingin, sementara aku masih bertanya ‘siapa yang tidak’ seorang panitia menjerit dari aula, kesurupan. Kemudian Sandy meminta satu tamparan dari TC, dari jenis tamparan yang menagih ucapan terimakasih berkali-kali. Kemudian aku berpikir mungkin acara tahun baruan di dunia hantu kurang meriah, hingga satu diantara mereka berharap mendapat sejenis keceriaan dengan membuat orang kesurupan. Yang diharapkan Sandy adalah jika saja hantu datang menghampiri, hantu itu menemukan bekas jelas di pipinya, atau hantu berpikir temannya telah mendahului menampar sang korban, atau lebih parah lagi hantu itu bertanya-tanya gerangan siapa yang menampar kemudian ketakutan sendiri. Kemungkinannya, hantu itu takut kesurupan, oleh sipenampar.

Kami pulang diantar Sandy dan Adi. Aku sampai dikamar yang masih seperti batu tempat Promotheus dihukum dengan dipatuki burung yang sedang kasmaran. Pada tetangga atau siapa saja. Dengan pakaian basah masih sempat sebelum tidur mengupas mangga, dengan ramalan untuk besok di tahun yang baru TC sakit. Dia yang telah sepakat sedari berangkat, bahwa tahun yang bagus mesti dimulai dengan kekonyolan. Dimulai dengan ketinggalan pekik itu dan nekad menembus hujan lalu menghitung mundur dari sepuluh setelah orang-orang tak lagi peduli pada hitungan. Tapi tak apa, seperti bisik Hasan dalam Atheis-nya Achdiat, “manusia memang suka menghitung, tak bosan-bosannya menghitung”. “Angka tak pernah berbohong, manusialah yang berbohong”, petuah Teacher saat Believer. Mungkin menghitung memang bikin senang bagi sebagian orang, Harold Crick si tokoh fiksi yang nyata dalam Stranger Than Fiction misalnya, ia menghitung jumlah gosokan saat menyikat gigi. Lalu kadangkala aku,  saat sulit tidur mengikuti mitos lama, mencoba menghitung domba. Namun kali ini sepertinya harus kusisakan sepuluh ekor. Untuk dihitung tahun depan.

 

Cileunyi, awal 2008


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar