Pelari

31 10 2008

Seberapa lama kau bisa bertahan? Ralph Waldo Emerson, si pelari jarak jauh itu bilang “Seseorang menjadi pahlawan bukan karena ia lebih berani dari yang lain, tapi ia berani bertahan sepuluh menit lebih lama”. Bertahan, terus berlari. Aku ingat sewaktu kecil senang sekali meraungkan luka dan bisa kubawa berlari, berlari hingga hilang pedih perih-nya Chairil itu. Sepertinya takkan ada satupun luka yang dapat mencegah aku melangkah. Tapi kini aku sering memerlukan lebih banyak golden minnow Feeding Frenzy atau semacam sekaleng bayam dari ketiak Popeye agar hatiku terus melambung, daya tahanku menabung. Mungkin dengan jalan menjaring beberapa kata yang dipadatkan menjadi semboyan agar aku setia dijalur dan kaki terus berlari. Dan akhirnya aku tertawa sendiri jika kutemukan kalimat-kalimat yang lebih sering mengikuti standar genit penyiar radio diacara curhat. Untuk itu, naluri pengutipanku mencari-cari jalan dalam mengingat kalimat yang pernah mencengangkanku dari yang sempat lewat dalam ingat. Tapi demikian, mengutip (menggunakan tanda kutip) sering memunculkan masalahnya sendiri, mungkin tentang kepersisan kata-kata dan maksud, juga penerapannya itu. Selain itu, tanda kutip adalah satu-satunya tanda baca yang menggantung, hingga sebagian orang khawatir pada soal ketergantungan. Baca entri selengkapnya »