Cugenang, kapan MAD? Maka sekarang akan kujawab sigap, seperti kalimat keluar lantang seorang tentara perbatasan Indonesia-Malaysia. MAD tanggal 02-03 Oktober! Jika aku menjawab tergagap-gagap, maka kutuklah aku menjadi gadis kecil dari SD inpres yang mengalami mulas teramat, seperti hendak melahirkan seekor anakonda dari perutnya jika pelajaran sejarah mulai. Karena, tanggal sakral itu tertera dalam kalender dengan cetak tebal, atau aku yang memang bebal; membuatnya seperti itu.

Lagipula, apa MAD? Aku akan menjawabnya dengan sikap lembut pramuniaga dengan senyum terukur Cartesian, bahwa MAD adalah Musyawarah Antar Desa. Jika kau bertanya berapa jenis musyawarah, dengan kekesalan penuh aku akan merinci jenis sesuai tingkatannya:

1. Musyawarah Antar Kota Antar Propinsi (MAKAP)

2. Musyawarah Antar Kota Dalam Propinsi (MAKDP) dan

3. Musyawarah Antar Desa (MAD)

Dan inilah dia, MAD kecamatan Cugenang adalah peristiwa penting. Maka aku sarankan kepada mereka yang peduli pada gelagat sejarah, atau pada tingkah kisah revolusi untuk tidak lupa mencatat peristiwa ini. Dengan alasan yang tak perlu kau cari keterkaitannya dengan lain peristiwa. Biarkan ia menjadi tanda kekeraskepalaan sosok aksioma.

Hah? Bukannya itu tandanya kedodoran, tanggal sekian dalam jadwal suci program hanya terpojok pada kemungkinan buruk catatan kaki? Baiklah, aku akan katakan dengan jujur. Dengan melihat rincian dari jenis musyawarah di atas. Akan terlihat betapa beratnya pelaksaan MAD itu. Seberat melaksanakan upaya makar di Brunei Darussalam, atau sesulit mencari kodok burik di Antartika. Tapi kami telah melaluinya, tiba-tiba aku teringat suatu diskusi lingkar hijau yang aku lupa tanggalnya (karena bukan termasuk peristiwa penting). Ketika itu, seseorang yang entah siapa mengatakan tentang pola advokasi, suatu sikap yang harus dimiliki adalah sikap “tahan-balang”. Kalimat itu membuat kantukku sedikit beringsut. Bagaimana mungkin dua kata berdamping saling rekat-waspada seperti sepasang fasilitator. Itulah sikap yang kami miliki hingga akhirnya terjadi MAD Cugenang.

Aku akan tegaskan kembali pentingnya peristiwa ini, peristiwa yang membuat bapak kita semua gagal berangkat ke Belanda, peristiwa yang membuat tenggelamnya sepenggal tanah Papua, peristiwa yang mendorong lahirnya anak ketiga dari kakaku yang kedua, peristiwa yang membuat aku berpikir apa selanjutnya.

Tahapan integrasi sampai mana?

Ya tuhan…

Cianjur, 08 Oktober 2010