Rutinitas itu tentara sekutu, dengan bengis mencengkram kerah bajuku. Jendral Senin yang keji, tidakkah kau senang melihatku menatap pagi dengan keharuan ditodong sepucuk kantuk di keningku. Aku ingin kembali tidur, menjelma salah satu dari tujuh pemuda atau anjingnya saja. Lalu masuk sorga. Tapi kukira mereka masuk surga bukan karena tidur yang lama, kata Isa Daud, Dajjalpun tidurnya lama. Mereka masuk sorga mungkin karena mereka tidur di tempat yang tepat; dalam goa. Artinya mereka menghemat energi. Dan ini yang harus segera aku teladani, kebiasaan baruku untuk tidur dengan membiarkan lampu dan televisi menyala adalah tindakan kontra sorga. Ah, kali ini kakakku akan senang mendengarnya. Jika aku membangunkannya di saat rasa malas naik kelas, ia hanya akan bilang bahwa bangun itu menghamburkan biaya. Lalu, aku harus menyeduhkan kopi dan menyediakan rokok terlebih dahulu untuk membayarnya mengenyahkan selimut. Kukira, tidur seperti itu berada di pihak Dajjal dan bukan tujuh pemuda.
Harusnya aku tidak terjebak diantara sengketa mereka, aku akan terkesan ngelantur jika sorga diukur dari tidur. Apalagi jika terlalu berani mengajukan asumsi bahwa sorga bagi tujuh pemuda adalah konpensasi dari tuhan yang terlalu lama menelantarkan mereka di dalam goa. Aku tidak harus bersikeras memikirkan mereka. Toh, aku harus bangun juga. Aku hanya ingin Senin pagi dengan geliatnya yang lebih cantik dan anggun, aku memikirkan geliat gadis cantik bintang iklan deodoran. Akan menjadi sebuah anugerah jika kutemukan suatu Senin yang berwarna merah. Tapi maaf, coba pertimbangkan lagi, mengapa kita tidak kerasan di goa-goa? Hidup yang dekat dengan ceria maupun bahaya. Kita bisa mewarnai hari-hari dengan merah-hitam atau apasaja. Tapi, coba pertimbangkan sekali lagi. Hidup seperti itu. Aku pernah menyaksikan para ahli berbicara di acara televisi yang cukup lancang, bahwa tindakan destruksi paling tajam dalam sejarah dimulai sejak manusia mengenal uang. Uang yang mendorong kita untuk memiliki rumah tiap masing-masing orang, ditambah villa atau alasan investasi. Uang yang berjasa membuat sejahtera orang paling malas sekalipun dan membuat miskin orang yang paling rajin membanting tulang-menggiling daging-menggerus sumsum sekalipun. Maka uang jadi lambang kesenjangan. Kepanikan terjadi bagi para pemerhati perdamaian, bahwa ancaman perdamaian terbesar selanjutnya bukan dari pihak yang memiliki niat jelek atau obsesi seorang tiran, melainkan dari tuntutan rasional mereka-mereka yang haknya tertumpas-rampas.
Tidak ada yang salah dengan Senin. Jikapun Senin menyala merah, ada Selasa yang akan setia menggantikannya dan kemudian selanjutnya. Jangan terlalu berlebihan dengan menganggap Senin sebagai kemudi bagi yang kemudian. Aku bangun di Senin pagi, menembus barikade, kemacetan lalu, penumpang yang berjejal. Senin pertama di tahun yang baru, aku akan mampu melewatinya. Karena sehari berselang telah mendapatkan infusan energi, dari Bi Raspi. Kenapa tidak, langkahku adalah gerak serempak irama Ronggeng Gunung. Melangkah bersama siapa-siapa, Aku akan memilih lagu favorit untuk diputar di dalam kepala, seperti Ally Mc Beal. Bersahutan suara kelakson, pedagang asongan, lima bocah soprano menjerit meminta eskrim, semua tak akan mampu menimpali lagu dalam kepalaku.
“Jangan pernah tersesat” itu amanat untuk Solomon Kane, bukan untukku. Lagipula, aku telah punya tujuan teguh menuju rutin. Tak akan terpeleset ke arah goa. Lalu, ini dia. Jalanan yang penuh, dan dinginnya pagi masih mengikuti dan mencubitku tak henti-henti. Dalam bis nanti, kantukku tak akan mampu berjaya. Bahkan, untuk sebuah tempat duduk, mungkin aku harus bergulat dengan naga atau menjawab pertanyaan jebakan dari Spinx. Ah, mungkin nanti saja agak siangan jalanan agak mendingan. Senin, tanpa banyak berpikir aku mangkir.
Cianjur, 03 Januari 2011

