Untuk Pradewi Tri Chatami

Seperti seseorang yang berjalan mengendap, tanpa mengusik tidurku, mengambil belati dari dalam laci, kemudian menyelundupkannya ke dalam mimpi. Aku tidak bisa lagi tidur dalam aman sejak itu. Seorang gadis yang menulis puisi dengan jari-jarinya yang kecil, dengan sepenuh hati. Lalu ia memakannya, pada tiap sobekan kertas, kenapa ia tidak menulis puisi di atas selembar keju, pikirku. Ah, itu tidak masalah. Karena ini hanya mungkin tejadi di Nonce, tempat kita bertemu saat itu. Suatu kesempatan pukul tiga siang. Gadis yang membuatku kembali menghampiri catatan, sementara kami telah sepakat melakukan gencatan. Aku masih mengingat itu, kau. Yang saat itu bilang. “Bahkan Iblispun bermurah hati dengan memberikan beberapa bisikan demi terlaksananya kisah”. Bahkan kau tidak peduli pada buku-buku jariku yang pecah, atau sekujur lukaku masih basah.

Aku yang kini bisa ikut mencicipi puisimu, pada jam-jam kapanpun. Aku hanya ingin bertanya tentang kabarmu dalam kata. Kemudian memastikan kau habiskan puisi itu, sobekan demi sobekan. Karena aku telah terlanjur menceritakannya, tentang seekor domba yang cukup lapar di kemarau yang lalu, domba yang luput kau hitung saat kantukmu tersarung. Ia telah memakan sisa sobekan terakhirmu. Dan kau tahu, selanjutnya jika domba itu mengembik, maka rumput-rumput akan menangis. Dan domba itu menghampiri mereka, lalu merumput; mengunyah dan memamah kegetiran-kegetiran. Seringkali aku sendiri tidak lagi mempercayai cerita itu, karena kini aku bisa ikut mencicipi puisimu, sambil meneriaki kutipan favorit kita “Tuhan, aku dombamu yang hitam!”

Aku tahu, aku seringkali abai pada bisikanmu. Dan saatnya kurasakan akibat, bahwa; keadaan yang sulit pulih adalah ketika kita salah memilih. Aku yang telah; terbengkalah dalam kisah, sementara kau pernah gigih mencegah. Ini terjadi. Hal yang membuatku sering datang ke tukang cukur, bukan hanya alasan membuat rautku patut. Tapi aku tertarik dengan suara gunting; sebelum tukang cukur itu memangkas rambutku, sesekali ia menggunting udara di atas rambutku. Aku membayangkan bagaimana kenangan ditata dan dirapikan. Dan setelah semuanya selesai, tidak menghentikan pertikaianku dengan cermin. Mungkin, aku berharap wajah Peter si laba-laba saja yang muncul, atau gadis yang melarikan diri dari kanvas Goya. Bahkan kuijinkan Sweeney Todd bernyanyi sambil memegang pisau cukur di balik pundakku kami yang sebentar bersitatap. Tapi, sekilas bayanganmu muncul; gadis yang memakan puisi. Apa kabarmu dalam kata?

Sekali ini, ijinkan aku berada di jam tiga mu. Seperti dulu, ketika kita membiarkan Critcley memperkenalkan saudara kembar si super ego. Coba ceritakan kepadaku kisah yang lucu, seperti apa yang diceritakan Finnegan ketika itu, mungkin kita akan menciptakan angin dengan meniup benih-benih Elathuria dan membiarkan Numa Child menjadi Chairil yang berlari, berlari hingga hilang pedih-peri. Tapi, bahkan aku tidak pantas lagi berada di hadapanmu, aku telah membuat banyak kekacauan—dan kali ini, aku ingin melakukan pengakuan: aku telah bersalah—dengan mulai membiasakan diri tertidur dengan lampu dan televisi menyala. Mungkin kau tidak dapat memaafkanku karena hal itu, tapi cobalah kau sedikit memberiku peluang untuk sejenak membayangkan kemana arah mana mata pisau dalam mimpiku menatap. Dalam mimpiku, aku menjadi orang asing. Yang, terlalu mudah untuk dicintai.

Garut 14 Maret 2011