Category: catatan harian


Surat

Untuk Pradewi Tri Chatami

Seperti seseorang yang berjalan mengendap, tanpa mengusik tidurku, mengambil belati dari dalam laci, kemudian menyelundupkannya ke dalam mimpi. Aku tidak bisa lagi tidur dalam aman sejak itu. Seorang gadis yang menulis puisi dengan jari-jarinya yang kecil, dengan sepenuh hati. Lalu ia memakannya, pada tiap sobekan kertas, kenapa ia tidak menulis puisi di atas selembar keju, pikirku. Ah, itu tidak masalah. Karena ini hanya mungkin tejadi di Nonce, tempat kita bertemu saat itu. Suatu kesempatan pukul tiga siang. Gadis yang membuatku kembali menghampiri catatan, sementara kami telah sepakat melakukan gencatan. Aku masih mengingat itu, kau. Yang saat itu bilang. “Bahkan Iblispun bermurah hati dengan memberikan beberapa bisikan demi terlaksananya kisah”. Bahkan kau tidak peduli pada buku-buku jariku yang pecah, atau sekujur lukaku masih basah. View full article »

Senin

Rutinitas itu tentara sekutu, dengan bengis mencengkram kerah bajuku. Jendral Senin yang keji, tidakkah kau senang melihatku menatap pagi dengan keharuan ditodong sepucuk kantuk di keningku. Aku ingin kembali tidur, menjelma salah satu dari tujuh pemuda atau anjingnya saja. Lalu masuk sorga. Tapi kukira mereka masuk surga bukan karena tidur yang lama, kata Isa Daud, Dajjalpun tidurnya lama. Mereka masuk sorga mungkin karena mereka tidur di tempat yang tepat; dalam goa. Artinya mereka menghemat energi. Dan ini yang harus segera aku teladani, kebiasaan baruku untuk tidur dengan membiarkan lampu dan televisi menyala adalah tindakan kontra sorga. Ah, kali ini kakakku akan senang mendengarnya. Jika aku membangunkannya di saat rasa malas naik kelas, ia hanya akan bilang bahwa bangun itu menghamburkan biaya. Lalu, aku harus menyeduhkan kopi dan menyediakan rokok terlebih dahulu untuk membayarnya mengenyahkan selimut. Kukira, tidur seperti itu berada di pihak Dajjal dan bukan tujuh pemuda. View full article »

HAVE FUN GO M.A.D

Cugenang, kapan MAD? Maka sekarang akan kujawab sigap, seperti kalimat keluar lantang seorang tentara perbatasan Indonesia-Malaysia. MAD tanggal 02-03 Oktober! Jika aku menjawab tergagap-gagap, maka kutuklah aku menjadi gadis kecil dari SD inpres yang mengalami mulas teramat, seperti hendak melahirkan seekor anakonda dari perutnya jika pelajaran sejarah mulai. Karena, tanggal sakral itu tertera dalam kalender dengan cetak tebal, atau aku yang memang bebal; membuatnya seperti itu. View full article »

Serumit pamit

Mungkin kau berpikir hanya akan mengabiskan waktu untuk mengamit kata pamit, memperkenalkannya padaku pada suatu sore dengan keramahan yang tak bisa kubayar dengan masuk sekolah tata krama yang dibuka tiap hari libur di pelataran keraton. Aku hanya akan menyukai itu jika membayangkan sikap tubuhmu saat melakukannya. Lagipula, kemarin dulu aku pernah meminta dengan kesadaran penuh hingga bisa kau lihat kesungguhanku bergelayutan sampai ujung rambutku untuk menemuinya atau mengetahui dengan pasti tentang sebuah jadwal ciuman hangat yang kau berikan setiap pagi sebelum kau buatkan sarapan untuknya. Aku tak kau perkenankan untuk menemuinya waktu itu, artinya aku tak perlu bersiul atau menjabat tangannya sebelum menyingkir. Artinya lagi, aku kalah telak untuk meraih hatimu. Ah ya, bukannya waktu itu kau tergesa-gesa untuk menyelamatkan diri entah dari ancaman apa, mungkin kau selalu menciptakan tsunami selagi mandi untuk kau kenakan di belakang punggungmu kemanapun kau pergi. Aku hanya tidak suka bagaimana kau menitipkan kesan yang dibuat-buat pada setiap kilahmu, bahwa kau tidak punya pilihan lain. Sepertinya di dunia ini hanya kau yang memiliki kartu pemilu. Dan harus kuakui, setiap darimu apapun itu, selalu bisa membuatku menyalakan lilin. View full article »

Bis

Belum terlalu malam, namun kegelapan tampak sinis menyiasati keberangkatan di atas jalan kelimis. Minggu malam adalah kapal selam, muncul kepermukaan yang tenang, membuyarkan arus yang kususur sejak petang jumat. Hujan sedari siang telah usai, menyisakan cermin gaib di jalan aspal.

Bis belum berangkat, aku duduk di kursi tiga dekat jendela, terhalang beberapa kursi sopir yang belum hadir. Selalu menarik melihat ke luar sana, juga terhindar dari kontak langsung dengan penawaran spesial sekali seumur hidup. Permen hangat yang dilempar ke atas pangkuan seperti anugrah untuk para pertapa. Jika selera tidak menuntun tanganmu untuk merogoh saku, empunya akan mengambil kembali dengan kecepatan tukang sulap. Atau penawaran harga buah yang bisa mengalami fluktuasi dalam hitungan detik, kolaborasi apik antara harga pesona dan kesabaran, serta bakat-bakat langka pahlawan bursa saham. Sebentar, suara gitar masih nyaring. Di lagu yang ke tiga ini buyar sudah rekor panggung Metallica. Sopir belum juga hadir, mungkin ia pria berjubah bernama Nuh. Aku merapikan dudukku, mengharapkan kenyamanan beberapa tahun hingga surut luapan entah apa di luar sana. View full article »

Minggu Tekun

Sepertinya aku butuh lebih banyak oksigen, karena lebih banyak hari-hari terjebak diantara warga Negara yang baik dan berkemeja. Sejak pagi menarik napas panjang, aroma debu dan cucian serta dua setengah inci puntung rokok sisa semalam, melamun dalam asbak melamin. Selamat pagi asap pertama, selamat pagi Tony Q, seperti pagi saat berebut kopi dingin dengan semut renik coklat muda, sewarna seragam pramuka, bocah-bocah manis mengucapkan salam ketika berpapasan. Tak berlangsung lama. Aku harus segera mandi dan berangkat. Mungkin ini disebut minggu tekun, atau bahkan bulan tekan. Sepertinya aku lebih membutuhkan sesuatu yang diramu oleh Panoramix. Aku tak sesial itu, hampir dua pekan aku memiliki rekan, sepertinya kau perlu sedikit membayangkan ketika pertama kali mendapatkan kotak makan siang yang baru, ibu memberikannya dalam keadaan benar-benar baru, bukan bekas kakak yang tahun ini masuk Sekolah Dasar dan malu membawa bekal dan mulai menikmati pengalaman batin saat di kantin. Kau akan menceritakannya pada teman-temanmu. Atau menambahkan beberapa cerita menakjubkan tentang kotak makan siang itu, bahwa setiap makanan yang disimpan disana tidak akan pernah basi. Atau kotak makan siang itu dibeli dengan cara dipesan secara khusus dan sebagainya. Bahkan kau tidak tahu bahwa di bawah kotak makan siang itu tercetak tulisan: Diproduksi oleh PT Pandora Sejahtera. View full article »

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.