Untuk Pradewi Tri Chatami
Seperti seseorang yang berjalan mengendap, tanpa mengusik tidurku, mengambil belati dari dalam laci, kemudian menyelundupkannya ke dalam mimpi. Aku tidak bisa lagi tidur dalam aman sejak itu. Seorang gadis yang menulis puisi dengan jari-jarinya yang kecil, dengan sepenuh hati. Lalu ia memakannya, pada tiap sobekan kertas, kenapa ia tidak menulis puisi di atas selembar keju, pikirku. Ah, itu tidak masalah. Karena ini hanya mungkin tejadi di Nonce, tempat kita bertemu saat itu. Suatu kesempatan pukul tiga siang. Gadis yang membuatku kembali menghampiri catatan, sementara kami telah sepakat melakukan gencatan. Aku masih mengingat itu, kau. Yang saat itu bilang. “Bahkan Iblispun bermurah hati dengan memberikan beberapa bisikan demi terlaksananya kisah”. Bahkan kau tidak peduli pada buku-buku jariku yang pecah, atau sekujur lukaku masih basah. View full article »

