Category: cerpen


Perjumpaan (dengan) yang lain

Orang asing, selamat datang di hidupku. Hari yang dipenuhi kurap dan kalap, sedikit lelap pada sepertiga malam. Aku tidak ingin mengenalmu, kaulah yang datang padaku, menginginkan ini itu tentangku, denganku. Aku tidak memerlukanmu, merindukan kedekatan denganmu, aku bahkan tak ingin memikirkan apa-apa tentangmu. Orang asing, tiba-tiba aku pusaran debu di tengah gasing. kau datang seperti mimpi, seperti potongan rusuk jatuh menjelang subuh. Bukankah kutemui kembali, selebihnya harus kurapikan langit kubenahi gunung-gunung, menata riak-riak laut. Tapi kau datang, tanpa gema lonceng, spanduk, atau kibaran bendera. Jabat tanganmu masih terasa perih, padahal hari itu kau belum berani mencakarku, dan kaupun belum punya kebiasaan untuk memanjangkan kuku, meruncingkan tanganmu, sejenis kebiasaan tidak berguna karena tak bisa kau pakai untuk sekadar melubangi jendela tempat kelak bermukim baut. View full article »

Pohon

Kita tahu ini tidak mungkin menjadi cinta. Hatiku lamur ketika ketelanjanganmu nyaris membuatku tersedu-sedu. Aku mengulurkan tubuhku yang seringkali rumah tua dengan jendela tak pernah kau lihat terbuka. Upaya si kikir mangkir dari pajak. Aku ingin sejenak mengenangkan Senin pagi ketika kita bertemu dalam naungan rindang pohon itu. Sebelum rasa asing benar-benar menyingsing. Pada pertemuan kita, aku merasakan pohon itu entah apa namanya, seperti dihuni ribuan hantu yang kurang beruntung di setiap sendi dahannya. Ah, barangkali angin begitu cepat dan tak terduga mempermainkannya semena-mena. Sejenak aku terheran-heran pada kemungkinan sebuah pohon dapat bergoyang dan meliuk-liuk seperti itu. Sementara pijakan bumi dalam geming-hening, tak sedebupun terpelanting. Langit menjadi timbul tenggelam, seperti terlipat-lipat. Aku tengadah menyimak dengan seksama, aku berusaha menunjukannya padamu ketika itu. View full article »

Stasiun

Fani Ahmad Fasani

Siang datang lebih cepat dari dugaanku, padahal jarak antara malam dan pagi kurasakan jauh saat ditempuh. Aku telah memutuskan untuk menjemput. Matahari menatap mataku lalu perih, aku membuang muka, dia tahu aku belum tidur sekejappun. Sudah jam sebelas lebih empat puluh delapan. Mungkin kurang dari setengah jam lagi kereta itu datang. Sebaiknya aku segera duduk syahdu di ruang tunggu. Setelah nanti pengeras suara mengumandangkan kedatangan mahluk besi melata itu, aku baru ke tepi rel. Kali ini aku merindukan gemuruhnya dari jauh, seperti pertanda hujan yang lekas. Kemudian setelah decitnya mereda, para penjemput berdiri, kuli-kuli angkut, pedagang asongan dan tentunya penumpang selanjutnya menyiapkan langkah segera. Aku akan menikmati berada di tengah mereka, seperti kembali menyambut harapan menghampiri. View full article »

Surat

Salam sembahku untuk ayah..
Aku tak tahu mesti mulai darimana. Kuharap semua baik-baik saja disana. terakhir kali ayah masih menjalani terapi, apa banyak terasa perubahan yang menggembirakan? Ah ya, saat-saat sekarang orang lebih memikirkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, harga-harga semakin menunjukan ketidak baikan, tapi semoga ayah masih memikirkan kesehatan sendiri. Setidaknya cukup beristirahat dan kurangi menyimak berita-berita kriminal  dan politik di televisi. Kukira akan lebih baik jika ayah tidak lagi mengurusi partai dan organisasi, masih banyak orang yang bisa melakukannya kan?
Disini aku baik-baik saja, setidaknya hingga aku menulis surat ini. Tapi entah bagaimana caranya, kota ini mulai menunjukan sikapnya yang tak biasa. Aku merasakan kota ini semakin menyempit dan hujan disini selalu membawa nuansa kekhawatiran yang hinggap tiba-tiba. Ah, itu tak penting. Mungkin aku hanya sedikit mulai bermasalah dengan hubungan orang-perorang di kota ini, atau aku terlalu merindukan rumah dimana hujan disambut gembira. Kita akan menatap mereka di pelataran, menyeduh jahe atau kopi,  tentu sebelum dokter melarangnya. Duduk tenang dalam pikiran masing-masing. Jika terjadi percakapan, yang paling kutakutkan jika mengarah soal masa depan, rencana dan segala tek-tek bengeknya. Saat-saat ini, ketika aku mulai memikirkan pulang, rasanya ada hal lain yang entah apa mesti kubawa serta. Aku tiba-tiba merasa kepulangan mesti mendapatkan makna yang lebih dari memastikan aku baik-baik saja atau sekedar menuntaskan rasa kangen pada kampung halaman. Aku merasa sudah terlalu tua untuk menanggapi pulang dengan harga yang terlalu gampang. View full article »

Datang

Seminggu yang lalu ia datang padaku, tak akan pernah seperti dulu tentu. Aku sibuk dengan kekhawatiranku sendiri, tentang rindu dendam yang mungkin mengambil alih sikap sebiasanya, aku masih bingung apakah mesti berharap ia seperti dulu, atau sebaliknya. Barangkali itu sedikit petunjuk bagaimana aku berbuat. Kegugupan itu menyiratkan betapa ia masih menimbang-nimbang apakah ini tindakan yang tepat untuk datang kemari setelah banyak hal terjadi. Dihari yang gerimis ini tanganku berkeringat. Ia duduk disampingku. Aku merasakan kamarku yang tak begitu luas ini menyempit sengit, bahkan tak memberi ruang untuk gerak dadaku saat menghirup udara. Padahal masih kupercaya semesta masih setia mekar kali ini. Sejak ledakkan di luar waktu itu? Aku ingin mengintrogasi hujan, mungkinkah pernah terencana sejak hujan pertama kali itu, tentang keterjalan suasana ini atau sejak kita masih berenang sebagai setitik hayat di kolam kental, apakah memang sudah menjadi persoalan pelik untuk mencoba menyikapi hati sendiri?, terlebih waktu-waktu yang telah berlalu tiba-tiba membikin lintasan-lintasannya sendiri di kali yang ini. Ia menggapai bungkus rokok di lantai, menyulutnya satu. Rupanya ia belum berhenti, dan percakapan tentang hal itu tak akan jadi topik yang menarik. Tapi, untuk mengungkit-ungkit masalah yang lalupun aku tak begitu bernyali. Mereka kupaksa menyepi di lidah, melipat rapat menekan cepat ke arah tenggorokan, namun kemudian melonjak, meluncur, meledakkan pengaruh buruk di semesta benak. View full article »

Jejak

Ia datang dari arah hilang, perasaan asing dan ditinggalkan. Malam begitu tenang. Beberapa helai doa mengambang di udara yang berat, daun turut jatuh. Suara tangis tertahan dikejauhan, seperti memangil-manggil, seperti aroma kopi meruap mengundang. Tangisan itu bagai pita tipis yang terbentang di udara, menuntun untuk menyusuri jejak-jejak kepedihan ketempat asalnya. Ada yang bangkit diam-diam, saksi pusara bisu. Seperti saat-saat ziarah ke makam kakek nenek dulunya, ayah memimpin doa dan ibu tertunduk syahdu. Lelaki kecil lebih suka memperhatikan wajah mereka tinimbang mengamini atau sesekali memperhatikan lumut-lumut terpanggang di atas nisan. Kini tinggal jejak, bukan kenangan itu. Ah, kenangan yang mengenang.. Bulan di atas langit tersenyum lesu, daun-daun kestuba tergeletak antara nisan, menyimpan doa dan membisikannya lirih, tenang dan fasih, corak kuning di atas daun itu seperti kaligrafi yang ditulis tangan gaib tak ada cela, daun-daun yang masih di ranting menatap sinis. View full article »

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.