Latest Entries »

Surat

Untuk Pradewi Tri Chatami

Seperti seseorang yang berjalan mengendap, tanpa mengusik tidurku, mengambil belati dari dalam laci, kemudian menyelundupkannya ke dalam mimpi. Aku tidak bisa lagi tidur dalam aman sejak itu. Seorang gadis yang menulis puisi dengan jari-jarinya yang kecil, dengan sepenuh hati. Lalu ia memakannya, pada tiap sobekan kertas, kenapa ia tidak menulis puisi di atas selembar keju, pikirku. Ah, itu tidak masalah. Karena ini hanya mungkin tejadi di Nonce, tempat kita bertemu saat itu. Suatu kesempatan pukul tiga siang. Gadis yang membuatku kembali menghampiri catatan, sementara kami telah sepakat melakukan gencatan. Aku masih mengingat itu, kau. Yang saat itu bilang. “Bahkan Iblispun bermurah hati dengan memberikan beberapa bisikan demi terlaksananya kisah”. Bahkan kau tidak peduli pada buku-buku jariku yang pecah, atau sekujur lukaku masih basah. View full article »

Kota Ini

Hari menjelang malam adalah rombongan pengantar jenazah, dengan seragam serba hitam mereka berjalan pelan.

“Jasad siapakah yang kalian antarkan?” Tanyaku.

“Ini jasadmu, kawan. Sekarang Jum’at malam.” Jawabnya dingin. Ah, aku teringat pemuda Kafka itu, yang memasuki lubang kuburan setelah membaca namanya tertera di batu nisan.

Jum’at menjelang malam adalah ketika biasanya aku pulang dengan perasaan penuh. Rutinitas telah tandas dalam laporan mingguan, meski masih ada ini itu di pundakku, aku sampirkan untuk dilampirkan minggu depan. Pun hari ini. View full article »

Kopiku sepinggang gelas, hanya

ingin mencelup jari di kental sisa.

Lalu, di atas taplak itu kutulis namamu.

Kaligrafi paling rapi, kerinduan paling sepi.

Kopiku direguk urung, gelas pecah dalam lambung.

Saat kalut; namamu rampung kusebut.

Cibiru, 26 Februari 2011

Rutinitas itu tentara sekutu, dengan bengis mencengkram kerah bajuku. Jendral Senin yang keji, tidakkah kau senang melihatku menatap pagi dengan keharuan ditodong sepucuk kantuk di keningku. Aku ingin kembali tidur, menjelma salah satu dari tujuh pemuda atau anjingnya saja. Lalu masuk sorga. Tapi kukira mereka masuk surga bukan karena tidur yang lama, kata Isa Daud, Dajjalpun tidurnya lama. Mereka masuk sorga mungkin karena mereka tidur di tempat yang tepat; dalam goa. Artinya mereka menghemat energi. Dan ini yang harus segera aku teladani, kebiasaan baruku untuk tidur dengan membiarkan lampu dan televisi menyala adalah tindakan kontra sorga. Ah, kali ini kakakku akan senang mendengarnya. Jika aku membangunkannya di saat rasa malas naik kelas, ia hanya akan bilang bahwa bangun itu menghamburkan biaya. Lalu, aku harus menyeduhkan kopi dan menyediakan rokok terlebih dahulu untuk membayarnya mengenyahkan selimut. Kukira, tidur seperti itu berada di pihak Dajjal dan bukan tujuh pemuda. View full article »

Cugenang, kapan MAD? Maka sekarang akan kujawab sigap, seperti kalimat keluar lantang seorang tentara perbatasan Indonesia-Malaysia. MAD tanggal 02-03 Oktober! Jika aku menjawab tergagap-gagap, maka kutuklah aku menjadi gadis kecil dari SD inpres yang mengalami mulas teramat, seperti hendak melahirkan seekor anakonda dari perutnya jika pelajaran sejarah mulai. Karena, tanggal sakral itu tertera dalam kalender dengan cetak tebal, atau aku yang memang bebal; membuatnya seperti itu. View full article »

Kusalin beberapa paragraf hujan,

Jemari ku kuyup menata hela dan imla.

Kelak, di bawah sampul buku jari-jariku

mengetuk gerimis. Sesaat sebelum tidur

kau memintaku membacakan sebuah cerita.

Semoga, tak ada bunga yang layu

dalam mimpimu.

Selaawi, 18 September 2010